Pada zaman dahulu kala, tersebutlah sebuah mobil yang masih menggunakan ban dalam....* * *
Hari Ahad, tgl.3 Januari 2010, aku pergi ke Situbondo untuk ziarah haji. Saat itu, tugasku sebagai pengemudi. Kami berangkat pukul 20.15 dari Pamekasan dengan 5 orang penumpang (seorang pria dan 4 wanita).
Entah mengapa, sebelum berangkat, tiba-tiba saja hatiku terpanggil untuk melakukan shalat sunnah Safar, suatu hal yang sangat jarang aku lakukan. Apa mungkin karena aku merasa butuh suntikan mental besar mengingat perjalan malam ini akan terasa melelahkan? Ya, 350-an kilometer harus melek semalam di belakang kemudi Suzuki Carry (bukan Mercy, lho) yang kubayangkan begitu keras suspensinya, dan begitu mudah limbung bodi-nya, dan apalagi, sepanjang Porong sampai Situbondo akan berhadapan dengan bis-bis malam.

Singkat cerita, dengan kecepatan rata-rata 70-80 km / jam, akhirnya, pada pukul 00.30 kami tiba di Masjid Sabilul Muttaqin, Tongas: inilah masjid “wajib singgah”-ku sejak dulu, sejak ubinnya masih tanah tetapi airnya sudah cukup melimpah. Kurebahkan tubuh. Tapi, belum sempat aku cuci muka, tiba-tiba pandangan mataku terarah ke roda belakang bagian kanan: “Innalillah,” batinku, “kena paku di mana ini?”
Selesai rehat sejenak, dengan berat hati mobil tetap kujalankan pelan-pelan karena masih ada sisa tekanan angin di dalam. Dan betul seperti yang disarankan petugas parkir masjid, tak jauh dari sana, sekitar 2 KM ke arah timur, ada tukang tembel ban yang buka hanya di waktu malam.
“Mengapa tidak pakai ban serep?” Tanya seorang penumpang.
“Perjalanan kita tidak diburu waktu. Jadi, biar kita tembel saja ban ini. Kita menjaga kemungkinan terburuk,” dalihku.
Selesai ditembel, gas diinjak, mobil melaju, mataku pun kembali nyalang.
Nah, pada saat asyik-asyiknya mengemudi dalam kecepatan, menikmati jalan di daerah Bungatan yang baru saja diperlebar, dan sayangnya masih tanpa marka jalan, tiba-tiba…
“Gedubrak !!! Glodog….dug….dag…”
Semua penumpang yang semula tertidur, jadilah tebangun.
Dengan sigap segera kuparkir mobil—lagi-lagi kebetulan—di halaman sebuah musholla kecil di tepi jalan.
“Ada apa?”
“Lubang!”
Sungguh aku tersentak kaget bukan alang-kepalang. Mengapa plot jalanan yang mulus ini diakhiri oleh ending yang buruk dan tanpa rambu-rambu atau
suspense-suspense kecil terlebih dahulu? Kenikmatan berpuluh-puluh kilometer akhirnya terlupakan begitu saja. Aku menggerak-gerakkan tubuh agar mata tidak mengantuk. Tapi, betapa kekagetanku berlipat manakala aku sadar: ban yang baru ditembel di Tongas itu kini sudah kempes lagi.
Astaghfirullah…lunglailah diriku:
Masya Allah...nge-ban lagi, keringatan lagi.
Alhamdulillah…coba tadi aku pakai ban serep, akan beda ceritanya. Mau nembel di mana jam 02:15 di tempat yang sepi begini?
Setelah dipasang, berangkat algi. Kali ini, jalan lebih hati-hati, hingga akhirnya kami tiba di Arjasa (Situbondo) sekitar pukul 4.30-an sehabis Subuh.
* * *
Hari Senin, 4 Januari 2010, pukul 9.30, aku berurusan dengan tukang tembel ban lagi: yang bocor kutembel, sedangkan serepnya kukembalikan ke tempat yang semestinya. Nah, malamnya, selesai mengikuti acara "Lailiyahan" di Panji Kidul, saat mau pulang sekitar pukul 00:20, ternyata ban mobil gembos lagi, di tepat yang sama pula: kanan belakang. Waduh. Ini bannya yang jelek, velg-nya berpaku, atau jangan-jangan ada hantinya, ya? He..he..). Perasan tidak enak menyeruak: nge-ban lagi, tengah malam lagi, keringatan lagi (tidak pakai “deh”).
Untunglah, Om Malung datang tepat saat dibutuhkan, mirip Wiro Sableng. Ia mengajakku ke kota, menggantinya dengan “ban bekas yang baru” lengkap dengan ban dalamnya. Catatan: semua dia yang bayar. “Ough.. Om, andai bisa, saya fotokopi Sampeyan sampai sepuluh kali,” demikian aku membatin.
Dan esok paginya, dengan ban itu, kubawa semua penumpangku pulang, menempuh perjalanan yang sama, dengan modal mata melek dua jam saja tetap tangar sampai Madura.